Pentingnya Menjaga Kelestarian Lingkungan dalam
Perspektif Agama
Oleh : Muhammad Sigit Prabowo (411510022)
Persoalan lingkungan hidup
adalah persoalan global dan bersifat universal, sebab berbicara tentang
lingkungan hidup, berarti berbicara tentang persoalan yang dihadapi seluruh
umat manusia. Persoalan lingkungan hidup pada umumnya disebabkan oleh dua hal.
Pertama, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai
proses dinamika alam itu sendiri. Kedua, karena ulah dan perbuatan tangan
manusia sendiri, akibatnya alam murka dan terjadilah bencana. Kedua bentuk
kejadian di atas, mengakibatkan ketidakseimbangan pada ekosistem dan
ketidaknyamanan kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora maupun fauna.
Ketidakseimbangan dan ketidaknyamanan tersebut dapat dikatakan sebagai bencana
atau kerusakan lingkungan hidup, yang bentuk-bentuknya berupa pencemaran air,
pencemaran tanah, krisis keanekaragaman hayati, kerusakan hutan, kekeringan dan
krisis air bersih, pertambangan dan kerusakan lingkungan, pencemaran udara,
banjir lumpur dan sebagainya. Dari sekian banyak persoalan kerusakan lingkungan
hidup , ternyata peran manusia sangat besar dalam menciptakan kerusakan
tersebut dan untuk itu, manusiapulalah yang paling banyak menanggung akibatnya.
Menurut pandangan agama Islam melalui Kitab Suci Al-Quran,
Allah telah memberikan informasi spiritual kepada manusia untuk bersikap ramah
terhadap lingkungan. Informasi tersebut memberikan sinyalamen bahwa manusia
harus selalu menjaga dan melestarikan lingkungan agar tidak menjadi rusak,
tercemar bahkan menjadi punah, sebab apa yang Allah berikan kepada manusia
semata-mata merupakan suatu amanah. Islam adalah agama yang mengajarkan kepada
umatnya untuk bersikap ramah lngkungan. Sikap ramah lingkungan yang diajarkan
oleh agama Islam kepada manusia dapat dirinci sebagai berikut :
1. Agar manusia menjadi pelaku aktif dalam
mengolah lingkungan serta melestarikannya
Di dalam al-Quran surat Ar Ruum ayat 9 Allaah swt
berfirman : Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan
memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka?
orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi
(tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan.
Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti
yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi
merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.
Pesan yang disampaikan dalam surat Ar Ruum ayat 9
di atas menggambarkan agar manusia tidak mengeksploitasi sumber daya alam
secara berlebihan yang dikhawatirkan terjadinya kerusakan serta kepunahan sumber
daya alam, sehingga tidak memberikan sisa sedikitpun untuk generasi mendatang.
Untuk itu Islam mewajibkan agar manusia menjadi pelaku aktif dalam mengolah
lingkungan serta melestarikannya.Mengolah serta melestarikan lingkungan
tercermin secara sederhana dari tempat tinggal (rumah) seorang muslim.
Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah Hadits yang
diriwayatkan oleh Thabrani :Dari Abu Hurairah : jagalah kebersihan dengan
segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah menegakkan Islam di
atas prinsip kebersihan. Dan tidak akan masuk syurga, kecuali orang-orang yang
bersih. (HR. Thabrani). Dari Hadits di atas memberikan pengertian bahwa manusia
tidak boleh kikir untuk membiayai diri dan lingkungan secara wajar untuk
menjaga kebersihan agar kesehatan diri dan keluarga/masyarakat kita
terpelihara.Demikian pula, mengusahakan penghijauan di sekitar tempat tinggal
dengan menanamkan pepohonan yang bermanfaat untuk kepentingan ekonomi dan
kesehatan, disamping juga dapat memelihara peredaran udara yang kita hisap agar
selalu bersih, bebas dari pencemaran.Dalam sebuah Hadits disebutkan :Tiga hal
yang menjernihkan pandangan, yaitu menyaksikan pandangan pada yang hijau lagi
asri, dan pada air yang mengalir serta pada wajah yang rupawan (HR. Ahmad)
2. Agar manusia tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan
2. Agar manusia tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan
Di dalam surat Ar Ruum ayat 41 Allah SWT memperingatkan bahwa terjadinya kerusakan di darat dan di
laut akibat ulah manusia. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).
Serta surat Al Qashash ayat 77 menjelaskan
sebagai berikut :Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Kedua Firman Allah SWT ini menekankan agar manusia
berlaku ramah terhadap lingkungan (environmental friendly) dan tidak berbuat
kerusakan di muka bumi ini.
Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda :Hati-hatilah terhadap dua macam kutukan;
sahabat yang mendengar bertanya : Apakah dua hal itu ya Rasulullah ? Nabi
menjawab : yaitu orang yang membuang hajat ditengah jalan atau di tempat orang
yang berteduh. Di dalam Hadits lainnya ditambah dengan membuang hajat di tempat
sumber air. Dari keterangan di atas, jelaslah aturan-aturan agama Islam yang
menganjurkan untuk menjaga kebersihan dan lingkungan. Semua larangan tersebut
dimaksudkan untuk mencegah agar tidak mencelakakan orang lain, sehingga
terhindar dari musibah yang menimpahnya.Islam memberikan panduan yang cukup
jelas bahwa sumber daya alam merupakan daya dukung bagi kehidupan manusia,
sebab fakta spritual menunjukkan bahwa terjadinya bencana alam seperti banjir,
longsor, serta bencana alam lainnya lebih banyak didominasi oleh aktifitas
manusia. Allah SWT Telah memberikan fasilitas daya
dukung lingkungan bagi kehidupan manusia.
3. Agar manusia selalu membiasakan diri bersikap ramah terhadap lingkungan
Di dalam Surat Huud ayat 117, Allah SWT berfirman : Artinya : Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan
membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang
berbuat kebaikan.
Fakta spritual yang terjadi selama ini membuktikan bahwa Surat Huud ayat 117 benar-benar terbukti. Perhatikan bencana alam banjir di Jakarta, tanah longsor yang di daerah-daerah di Jawa Tengah, tumpukan sampah dimana-mana, polusi udara yang tidak terkendali, serta bencana alam di daerah atau di negara lain membuktikan bahwa Allah tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, melainkan penduduknya terdiri dari orang-orang yang tidak berbuat kebaikan terhadap lingkungan.
Fakta spritual yang terjadi selama ini membuktikan bahwa Surat Huud ayat 117 benar-benar terbukti. Perhatikan bencana alam banjir di Jakarta, tanah longsor yang di daerah-daerah di Jawa Tengah, tumpukan sampah dimana-mana, polusi udara yang tidak terkendali, serta bencana alam di daerah atau di negara lain membuktikan bahwa Allah tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, melainkan penduduknya terdiri dari orang-orang yang tidak berbuat kebaikan terhadap lingkungan.
Dalam suatu kisah diriwayatkan, ada seorang
penghuni surga. Ketika ditanyakan kepadanya perbuatan apakah yang dilakukannya
ketika di dunia hingga ia menjadi penghuni surga?. Dia menjawab bahwa selagi di
dunia, ia pernah menanam sebuah pohon. Dengan sabar dan tulus, pohon itu
dipeliharanya hingga tumbuh subur dan besar. Menyadari akan keadaannya yang
miskin ia teringat bunyi sebuah hadits Nabi, Tidak seorang muslim yang menanam
tanaman atau menyemaikan tumbuh-tumbuhan, kemudian buah atau hasilnya dimakan
manusia atau burung, melainkan yang demikian itu adalah shodaqoh baginya.
Didorong keinginan untuk bersedekah, maka ia biarkan orang berteduh di
bawahnya, dan diikhlaskannya manusia dan burung memakan buahnya. Sampai ia
meninggal pohon itu masih berdiri hingga setiap orang (musafir) yang lewat
dapat istirahat berteduh dan memetik buahnya untuk dimakan atau sebagai bekal
perjalanan. Burung pun ikut menikmatinya.
Riwayat tersebut memberikan nilai yang sangat berharga sebagai bahan kontemplasi, artinya dengan adanya kepedulian terhadap lingkungan memberikan dua pahala sekaligus, yakni pahala surga dunia berupa hidup bahagia dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih, indah dan hijau, dan pahala surga akhirat kelak di kemudian hari.Untuk mendapatkan dua pahala tersebut seorang manusia harus peduli terhadap lingkungan, apalagi manusia telah diangkat oleh Allah sebagai khalifah. Hal ini dapat dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 30 berikut : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing dan mengarahkan segala sesuatu agar mencapai maksud dan tujuan penciptaanNya.
Riwayat tersebut memberikan nilai yang sangat berharga sebagai bahan kontemplasi, artinya dengan adanya kepedulian terhadap lingkungan memberikan dua pahala sekaligus, yakni pahala surga dunia berupa hidup bahagia dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih, indah dan hijau, dan pahala surga akhirat kelak di kemudian hari.Untuk mendapatkan dua pahala tersebut seorang manusia harus peduli terhadap lingkungan, apalagi manusia telah diangkat oleh Allah sebagai khalifah. Hal ini dapat dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 30 berikut : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing dan mengarahkan segala sesuatu agar mencapai maksud dan tujuan penciptaanNya.
Al-Quran tidak mengenal istilah penaklukan alam
karena secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukan alam untuk
manusia adalah Allah. Secara tegas pula seorang muslim diajarkan untuk mengakui
bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali dengan
penundukan Allah.
Sedangkan, menurut pandangan
agama Kristen melalui Alkitab
memperingatkan bahwa kerusakan alam selama ini adalah karena ulah dan kejahatan
manusia. Mazmur (107:33-34), misalnya, menyatakan: Dibuat-Nya sungai-sungai
menjadi padang gurun, dan pancaran-pancaran air menjadi tanah gersang, tanah
yang subur menjadi padang asin, oleh sebab kejahatan orang-orang yang diam di
dalamnya. Alkitab sebenarnya tidak pernah menyaksikan bahwa Tuhan memberikan
hak kepada manusia untuk menguasai dan mengusahakan alam dan sumber dayanya
secara eksploitatif dan seenaknya. Sebaliknya, manusia dituntut tanggung
jawabnya untuk memelihara dan mengasihi segala ciptaan-Nya.
Menurut pandangan agama Hindu di dalam Mahabaratha terdapat
keterangan bahwa alam adalah pernberi segala keinginan dan alam adalah sapi
perah yang selalu mengeluarkan susu (kenikmatan) bagi yang
menginginkannya.Ungkapan ini mengandung arti bahwa bumi atau alam yang
diibaratkan sebagai sapi perah harus dipelihara dengan baik sehingga banyak
mengeluarkan kebutuhan yang diperlukan oleh manusia. Kalau sapi perah itu tidak
dipelihara, apalagi dibantai, niscaya ia tidak akan mengeluarkan susu lagi
untuk kehidupan manusia. Dengan kata lain, alam ini apabila dieksploitasi akan
membuat manusia sengsara.
Sementara menurut pandangan
agama Buddha, dalam Karaniyametta
Sutta disebutkan hendaklah ia berpikir semoga semua makhluk berbahagia. Makhluk
hidup apapun juga, yang lemah dan yang kuat tanpa kecuali, yang panjang atau
yang besar, yang sedang, pendek, kecil atau gemuk, yang tampak atau tak tampak,
yang jauh ataupun yang dekat, yang terlahir atau yang akan lahir, semoga semua
makhluk berbahagia. Hal ini mengandung arti bahwa agama Budha menolak
terjadinya pencemaran dan perusakan alam dan segenap potensinya.
Demikianlah artikel ini kami
susun, sebagai bahan renungan bagi kita bersama, dalam rangka meningkatkan
peranan antar umat beragama dalam pelestarian lingkungan hidup dalam perspektif
agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar